Tugas Softskill 1 Manajemen Proyek & Resiko

1 11 2010

1. Jelaskan konsep manajemen proyek !

2. Jelaskan karakteristik khusus yang membedakan proyek dari kegiatan rutin lainnya.

3. Apa yang membedakan proyek teknologi informasi dengan proyek lain pada umumnya.

4. Berikan contoh nyata 1 dari jenis proyek teknologi informasi yang dilaksanakan oleh pemerintah atau organisasi bisnis. Deskripsikan dengan jelas contoh tersebut.

5. Tulis dalam wartawarga komentar anda tentang proyek yang anda gunakan sebagai contoh no 4 di atas.

Jawab

1. Manajemen proyek lebih ditekankan pada tiga faktor, yaitu : manusia, masalah dan proses. Dalam pekerjaannya faktor manusia sangat berperan penting dalam suksesnya manajemen proyek. Pentingnya faktor manusia dinyatakan dalam model kematangan kemampuan manajement manusia yang berfungsi untuk meningkatkan kesiapan organisasi perangkat lunak (sistem informasi) dalam menyelesaikan masalah dengan melakukan kegiatan menerima, memilih, kinerja manajemen, pelatihan, kompensasi, pengembangan karier, organisasi dan rancangan kerja serta pengembangan tim.

2. Perbedaaan proyek dengan kegiatan lainnya adaalah :
– Proyek memiliki jangka waktu tertentu, yang berarti bahwa rangkaian aktivitas tersebut memiliki titik mulai dan titik selesai yang pasti ditargetkan. Dan bersifat unik, yang berarti bahwa tidak ada proyek yang menghasilkan produk atau jasa/pelayanan yang identik.
– Sedangkan aktivitas operasional dilakukan secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, yang merupakan pekerjaan standar yang harus dikerjakan oleh masing-masing karyawan atau staf perusahaan berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya.

3. Perbedaan teknologi informasi dengan proyek lainnya adalah :
– Jadi Teknologi Informasi adalah mengetahui dan mengukur risiko-risiko dalam pengerjaan proyek-proyek teknologi informasi. Pengukuran risiko teknologi informasi yang dilakukan akan menampilkan nilai tingkatan dari frekuensi terjadinya risiko terhadap dampak yang dapat dihasilkan. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi untuk memitigasi risiko pada proyek teknologi informasi. Penelitian ini menemukan perbedaan prioritas risiko dari penelitian sebelumnya dan rekomendasi yang dapat membantu untuk meminimalkan risiko yang ditemukan. Penelitian ini dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya risiko sehingga dapat meminimalisasi kemungkinan kegagalan suatu proyek teknologi informasi.
– Berbeda dengan proyek lainnya, pada Era globalisasi dan persaingan dunia bisnis di Indonesia yang semakin pesat dan luas diiringi dengan pertumbuhan teknologi informasi yang semakin pesat pula. Untuk mencapai tujuan bisnisnya, banyak perusahaan menggunakan teknologi informasi sebagai basis dalam memberikan pelayanan yang berkualitas maupun dalam mengoptimalisasi proses bisnisnya. Jika penerapan teknologi informasi tidak sesuai dengan arah bisnis perusahaan, maka
akan menimbulkan risiko. Risiko yang timbul akibat penerapan teknologi informasi yang salah dapat menyebabkan implementasi proses bisnis yang tidak optimal, kerugian finansial, menurunnya reputasi perusahaan, atau bahkan akan berakibat hancurnya bisnis perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan suatu manajemen risiko terhadap penerapan teknologi informasi bagi perusahaan.

4. Besarnya dorongan pemerintah pusat –baik secara formal melalui adanya inpres dan peraturan perundangan lainnya maupun secara informal melalui himbauan-himbauan- agar pemerintah daerah memanfaatkan e-Government untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas jalannya pemerintahan, menyebabkan banyak pemerintah daerah berupaya untuk mengimplementasikan e-Government dalam lingkungan masing-masing. Berbagai proyek teknologi informasi dilaksanakan dengan biaya yang cukup besar, tapi pada kenyataannya hanya sedikit yang berhasil sesuai dengan apa yang direncanakan, banyak proyek teknologi informasi yang hanya berfungsi sebagian, atau bahkan gagal total. Hal ini dapat menjadi contoh yang kurang baik bagi pemanfaatan e-Government di daerah.
Salahsatu penyebab utama dari kegagalan-kegagalan ini adalah kesenjangan antara desain yang dibuat dengan kondisi yang ada saat desain tersebut dibuat di lingkungan pemerintah daerah. Kesenjangan ini meliputi berbagai aspek yang berbeda, dimana semakin besar kesenjangan, akan semakin besar pula kemungkinannya bahwa sebuah proyek akan gagal.
Pada konsep ini dilakukan pengukuran kesenjangan antara realita yang ada dengan desain dari sistem yang akan dibangun, pertimbangan utama dari framework ini adalah bahwa semakin besar kesenjangan antara realita dan desain maka semakin besar resiko bahwa proyek tersebut akan gagal. Jika kesenjangan tersebut dapat diperkecil maka resiko kegagalan dari suatu proyek e-Government dapat dikurangi. Sebenarnya ada berbagai framework teknologi informasi yang dapat digunakan untuk meng-audit proyek e- Government, tapi dari hasil studi yang dilakukan di BPPT disimpulkan bahwa framework-framework tersebut tidak dapat diterapkan di Indonesia karena:
– Setiap framework memiliki keunggulan dan kegunaan masing-masing
– Framework tersebut dikembangkan dengan perspektif negara maju yang seringkali berbeda dengan kondisi negara berkembang.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: